Seorang dokter memutuskan pensiun setelah hampir 30 tahun merawat pasien kanker. Saat menyelesaikan urusan keuangan kliniknya bersama perusahaan penagihan, ia memilih untuk menghapus utang seorang pasien sebesar 650.000 dolar AS. Dalam sebuah wawancara, ia berkata, “Saya selalu merasa gelisah melihat pasien yang sedang sakit masih harus memikirkan hal-hal lain selain kesehatan mereka, seperti keluarga, pekerjaan, dan tekanan finansial. Itu terus membebani hati saya.”
Ketika teman saya, Maritza, mendapat pekerjaan yang mengharuskannya bepergian sendiri ke berbagai kota, ia sering merasa kesepian. Namun, suatu malam setelah makan, ia berkata kepada saya, “Jen, saya pernah berdoa dan meminta Allah untuk mengutus umat-Nya kepadaku.” Tak lama setelah itu, ia mulai bertemu secara rutin dengan saudara-saudari seiman. Bahkan, dalam satu hari, ia pernah bertemu dengan tiga orang sekaligus!
Keponakan perempuan saya yang berusia tiga tahun mulai mengerti bahwa ia dapat mempercayai Yesus dalam situasi apa pun. Suatu malam, saat terjadi badai petir dan ia berdoa sebelum beranjak tidur, ia mengatupkan kedua tangannya, menutup matanya, dan berkata, “Tuhan Yesus, aku tahu Engkau beserta kami. Aku tahu Engkau sayang kami. Aku juga tahu badai ini bisa berhenti kalau Engkau menyuruhnya berhenti.”
Ketika muncul bercak kulit tanda iritasi di dekat mata kiri saya, saya pun menggunakan riasan wajah untuk menutupinya. Dengan itu, saya bisa menyembunyikan masalah tersebut untuk sementara waktu. Namun, setelah beberapa waktu, bintik merah yang membengkak itu tidak kunjung hilang, dan saya pun tahu bahwa ini memerlukan pemeriksaan medis. Suatu pagi, sebelum bertemu dokter, saya terpikir untuk menutupinya dengan riasan wajah seperti biasa, tetapi akhirnya tidak jadi. Saya ingin dokter melihat masalahnya dengan jelas dan mengobatinya supaya sembuh.
Di suatu malam yang sejuk, saya bertemu dengan sejumlah teman di kawasan pusat kota. Kami sangat bersemangat untuk bersantap di sebuah restoran yang menyajikan penampilan musik jazz di luar ruangan, tetapi ketika kami tiba, teras restoran itu sudah penuh. Dengan kecewa, kami pun beranjak dari sana dan harus berjalan kaki beberapa blok untuk mencari tempat makan lain.
Pada suatu perjalanan di larut malam, setelah berkendara selama 15 jam, kami dikejutkan oleh peringatan tentang datangnya tornado. Peringatan itu memerintahkan kami untuk segera berlindung. Seolah diberi isyarat, petir pun menyambar di langit, dan angin kencang menghantam jendela mobil kami. Kami memacu kendaraan keluar dari jalan raya dan memarkirnya di dekat sebuah gedung hotel yang terbuat dari beton. Sambil berlari cepat-cepat ke dalam gedung, kami bersyukur dapat menemukan tempat perlindungan yang aman.
Tanaman semangka telah menguasai kebun saya. Sulur-sulurnya merambat melewati jalan setapak, memanjat pagar, dan yang paling parah, berusaha mencekik tanaman sayur yang saya sayangi. Saya tahu kebun itu tidak akan berkembang kalau saya tidak bertindak. Jadi, pada suatu sore saya turun tangan untuk mengurai sulur-sulur dari daun dan batang tanamannya. Ketika sulur-sulur tadi kembali tumbuh, saya harus terus memotongnya hingga tanaman sayuran saya akhirnya bertumbuh menghasilkan tomat yang padat dan paprika yang berkilat.
Setiap musim gugur, tanaman seperti ragweed (sejenis rumput liar) menimbulkan iritasi sinus pada anak saya. Suatu malam, gejalanya begitu parah sehingga saya memutuskan untuk membawanya ke dokter. Keluarga kami baru saja pulih dari masalah kesehatan yang serius selama berbulan-bulan, dan saya sangat berkecil hati sampai-sampai saya tidak ingin berdoa. Namun, suami saya menemukan secercah pengharapan di dalam semua yang telah kami lalui dengan pertolongan Allah. Ia pun berdoa memohon petunjuk. Tak lama kemudian, dengan bantuan obat-obatan, kondisi anak kami membaik.
Sebagai seorang perajin tanah liat seumur hidupnya, Dan Les bekerja membuat bejana dan patung dekoratif. Rancangannya yang telah meraih sejumlah penghargaan terinspirasi dari kota tempat tinggalnya di Rumania. Perajin yang mempelajari keterampilannya dari sang ayah itu memberikan komentar berikut tentang pekerjaannya: “[Tanah liat perlu] difermentasi selama satu tahun, dibiarkan kehujanan, lalu membeku dan meleleh [supaya] . . . bisa dibentuk, dan kita pun merasakan dengan tangan bahwa tanah liat itu ‘mendengarkan’ kita.”